Video yang beredar di media sosial X kembali memantik perhatian publik internasional terhadap aktivitas diplomatik Pemerintahan Palestina. Rekaman tersebut memperlihatkan sebuah pesawat dengan registrasi T7-PAL dan corak bendera Palestina mendarat di Bandara Moskow pada malam hari, di tengah kondisi cuaca basah dan bersalju.
Berdasarkan analisis visual dan data penerbangan, pesawat itu dipastikan merupakan Boeing 737-7GJ BBJ yang digunakan secara eksklusif sebagai pesawat kepresidenan Palestina. Pesawat ini selama beberapa tahun terakhir menjadi sarana utama perjalanan luar negeri Presiden Mahmoud Abbas.
Pesawat tersebut dibeli oleh Otoritas Palestina sekitar tahun 2018 dengan nilai yang diperkirakan mencapai 50 juta dolar AS. Sejak itu, pesawat ini rutin digunakan untuk kunjungan kenegaraan, termasuk ke Rusia, negara-negara Eropa Timur, dan kawasan Timur Tengah.
Meski membawa simbol nasional Palestina yang jelas di bagian ekor, pesawat itu tidak terdaftar langsung atas nama Otoritas Palestina. Registrasinya menggunakan kode T7 milik San Marino, sebuah praktik yang lazim dilakukan oleh negara atau entitas yang tidak memiliki otoritas registrasi penerbangan nasional penuh.
Dalam operasionalnya, pesawat ini dikelola oleh Arab Wings, sebuah perusahaan charter asal Yordania. Namun demikian, kepemilikan dan penggunaannya sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah Palestina, sehingga fungsinya setara dengan pesawat kepresidenan negara lain.
Video yang beredar memperlihatkan detail protokoler yang lengkap. Setelah pesawat parkir, tangga dipasang, karpet merah digelar, dan iring-iringan kendaraan resmi dengan bendera Palestina terlihat menunggu di apron bandara Moskow untuk menjemput delegasi.
Kemunculan pesawat ini juga memicu perdebatan di media sosial terkait kaitannya dengan Palestine Airways. Sebagian warganet keliru mengaitkan pesawat tersebut dengan maskapai Palestina yang mereka anggap masih beroperasi hingga kini.
Faktanya, pesawat yang digunakan Mahmoud Abbas sama sekali tidak berhubungan dengan maskapai komersial mana pun. Pesawat ini adalah aset negara yang diperuntukkan khusus bagi kepala pemerintahan Palestina.
Nama Palestine Airways sendiri memiliki sejarah panjang dan sering disalahartikan. Maskapai dengan nama tersebut pertama kali muncul pada era Mandat Inggris di Palestina pada dekade 1930-an hingga 1940-an.
Palestine Airways versi awal didirikan pada 1934 oleh Pinhas Rutenberg, seorang tokoh Zionis, bekerja sama dengan Histadrut dan Jewish Agency. Maskapai ini mulai beroperasi secara reguler pada 1937 dengan rute-rute regional seperti Tel Aviv, Haifa, Lydda, dan Beirut.
Maskapai tersebut beroperasi di bawah struktur Mandat Inggris dan sempat berada di bawah kendali Imperial Airways dari Inggris. Setelah berdirinya Israel pada 1948, jejak Palestine Airways versi ini menghilang, dan kerap dikaitkan sebagai salah satu cikal bakal El Al.
Maskapai tersebut tidak dapat disebut sebagai maskapai Palestina Arab dalam pengertian modern. Secara politik dan struktural, entitas itu berakar pada proyek penerbangan Zionis di masa kolonial.
Berbeda dengan itu, di era Yasser Arafat terdapat maskapai lain bernama Palestinian Airlines. Maskapai ini didirikan oleh Otoritas Palestina pada 1 Januari 1995, tak lama setelah terbentuknya pemerintahan otonom Palestina.
Palestinian Airlines mulai beroperasi pada 1997 dengan penerbangan charter haji ke Jeddah, lalu membuka rute reguler dari El Arish di Mesir menuju Yordania dan Arab Saudi. Maskapai ini menjadi simbol awal kedaulatan transportasi udara Palestina.
Puncak eksistensinya terjadi pada November 1998 saat Bandara Internasional Gaza, yang kemudian dinamai Bandara Yasser Arafat, diresmikan. Peresmian itu dihadiri Presiden AS Bill Clinton dan Yasser Arafat sendiri.
Namun, masa operasional maskapai ini relatif singkat. Intifada Kedua yang pecah pada 2000 membawa dampak fatal bagi infrastruktur penerbangan Palestina, termasuk penghancuran landasan bandara Gaza oleh Israel pada 2001–2002.
Sejak saat itu, bandara ditutup permanen dan operasional Palestinian Airlines praktis berhenti. Maskapai sempat bertahan dengan layanan sangat terbatas dari El Arish hingga sekitar 2020 sebelum akhirnya dilikuidasi.
Dengan demikian, tidak pernah ada maskapai aktif bernama Palestine Airways di era Yasser Arafat maupun di bawah Otoritas Palestina modern. Dua entitas dengan nama serupa tersebut berasal dari konteks sejarah yang sama sekali berbeda.
Kesalahpahaman inilah yang kembali muncul seiring beredarnya video kedatangan Mahmoud Abbas di Moskow. Banyak pihak mencampuradukkan simbol nasional, pesawat kepresidenan, dan sejarah penerbangan Palestina.
Pada akhirnya, pesawat T7-PAL yang terlihat dalam video tersebut tetap merupakan pesawat kepresidenan Otoritas Palestina. Ia bukan milik maskapai komersial, melainkan bagian dari diplomasi dan representasi negara Palestina di panggung internasional.

Posting Komentar